Bahasa Itu Gila [Languange is Crazy]

Percayakah anda bahwa bahasa adalah salah satu tradisi peninggalan nenek moyang kita yang membuat kita gila memahaminya. Bagaimana bisa manusia yang hidup di planet yang sama mempunyai sebegitu banyak perbedaan ucapan dan bahasa untuk berinteraksi dan berkomunikasi antar satu sama lain. Dan terkadang pernah kah kita membayangkan bagaimana bila orang di planet ini mempunyai bahasa yang sama dan cuma satu, mungkin kita akan mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan sekarang karna kita tidak perlu membuang terlalu banyak waktu untuk mempelajari bahasa seperti kata pepatah “waktu adalah uang” tapi kalo boleh saya berpendapat pepatah itu adalah salah satu pepatah yang ngaco dikarnakan waktu itu tidak mungkin uang karna uang itu bisa dihasilkan sedangkan waktu apakah waktu bisa dihasilkan?! Tidak kan?! Dan juga uang bisa di cetak dan diperbaharui sedangkan waktu bisakah dicetak atau diperbaharui?! Tidak kan?! Dan dengan ini bisa menjamin bahwa banyak hal yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita itu hanya untuk mempersusah dan membuat kita bingung dan itu juga sebagai bukti bahwa nenek moyang atau orang terdahulu kita tidak sebijaksana yang kita anggap sekarang.  Ini adalah contohnya peninggalan mereka yang membuat saya berkesimpulan seperti itu. Haha :p

Habis Lulus Kuliah, Mending Kerja Dulu Atau Langsung S2?

Apakah selepas skripsi selesai kamu sudah bisa bebas dari kegalauan hidup?Jawabannya: tidak. Setelah bebas dari dilema mahasiswa tingkat akhir kamu masih harus dihadapkan pada pilihan hidup yang akan sangat berpengaruh bagi masa depanmu: lanjut kuliah S2 atau kerja?

Ada yang bilang, langsung lanjut sekolah aja karena otak masih segar. Tapi ada juga yang menyarankan untuk langsung turun ke dunia kerja dan cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Bingung gak tuh? Kali ini Hipwee akan paparkan keuntungan dan kekurangan dari masing-masing pilihan.

Dilema Para Fresh Graduates Dalam Perjuangan Mencari Kerja

Hampir semua orang yang sudah lulus kuliah hanya akan lega di hari wisudanya. Rasanya semua perjuangan terbayar di hari perayaan tersebut. Tapi keesokan harinya pertanyaan mulai bermunculan di kepala,

“Udah lulus nih. Udah dapat gelar. Terus harus ngapain?”

Biasanya para sarjana baru akan akrab dengan job fair dan berbagai laman rekrutmen pegawai. Dari kehidupan mahasiswa yang nyaman, secara tiba-tiba kamu yang baru lulus akan dihadapkan pada status baru sebagai pengangguran dan pencari kerja.

Menurut Recruitment Beast, sebuah perusahan rekrutmen dari Filipina, setidaknya ada 3 dilema yang dihadapi oleh mahasiswa yang baru saja lulus kuliah:

  1. Pekerjaan impianmu mensyaratkan pengalaman kerja minimal 2 tahun. Dapat pengalaman dari mana coba, kamu kan baru lulus kuliah!
  2. Persaingan untuk lulusan baru sangat ketat. Jumlah pekerjaan tidak sebanding dengan angkatan kerja yang lulus setiap tahunnya.
  3. Gaji yang ditawarkan jauh dibawah ekspektasi.

Ini membuat banyak lulusan baru banting setir untuk mengambil pendidikan lanjutan di tingkat Master.

Sebenarnya S2 Akan Membentukmu Jadi Apa?

Sebelum membahas kelebihan dan kekurangan bekerja atau melanjutkan pendidikan S2 selepas lulus, mari kita lihat dulu apa yang ditawarkan oleh pendidikan lanjutan di tingkat Master. Berbeda dengan pendidikan tingkat sarjana yang mencetak mahasiswa untuk mengerti dan mengaplikasikan pengetahuan yang dihasilkan orang lain, mahasiswa S2 dituntut untuk jadi salah satu produsen ilmu pengetahuan.

Di awal pendidikan, mahasiswa S2 akan dihadapkan pada berbagai kelas yang harus diambil. Kegiatan belajar di kelas akan lebih didominasi aktivitas diskusi, dibanding mendengarkan ceramah dari dosen. Sebagai mahasiswa pasca sarjana kamu dituntut aktif melakukan pembelajaran secara mandiri.

Pada 1-2 semester terakhir, aktivitas mahasiswa pascasarjana akan lebih banyak terfokus pada kegiatan riset. Pengetahuan yang lebih mendalam tentang bidang studi yang sedang kamu geluti tidak akan datang dari kelas, melainkan dari aktivitas langsung di lapangan.

Kamu akan punya kesempatan untuk bekerja bersama dosen dalam menyelesaikan sebuah riset. Mahasiswa Pascasarjana juga memiliki kesempatan luas untuk magang di berbagai organisasi.

Secara garis besar, pendidikan di tingkat Master memang mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman profesional lewat proses riset dan pembelajaran yang dilakukan secara mandiri.

Apakah Pendidikan Pascasarjana Akan Menjamin Karirmu Lebih Cemerlang?

Steve Icampo, manajer of Worldwide Staffing di Amphenol Corporation, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa pendidikan Pascasarjana tidak akan serta merta menjamin kesuksesan seseorang.

“You should not assume that education will get you to where you want to go; what will get you there is you.”  (Jangan pernah punya asumsi bahwa pendidikan akan membawamu mencapai impian. Yang membuatmu bisa mencapainya adalah kamu sendiri.)

Sebelum seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat Master, menurut Icampo, ada baiknya orang tersebut memiliki pengalaman kerja terlebih dahulu. Pengalaman kerja yang dibarengi dengan pendidikan akan membuat seseorang makin ahli di bidang yang ditekuninya.

Dalam wawancara yang sama, Icampo mengingatkan para calon pencari kerja yang berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana untuk terus bertanya kepada diri mereka sendiri, dan tetap membekali diri dengan pengalaman kerja:

“Bayangkan hal apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus. Kamu harus bisa membuktikan ke pasar persaingan pencari kerja bahwa kamu punya kelebihan yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Kamu tidak akan pernah tahu hal yang bisa kamu jual dalam dirimu kalau kamu tidak benar-benar mencarinya. Dan terkadang, satu-satunya cara untuk mencari dan menemukan itu adalah dengan bekerja”.

Pendapat lain datang dari Hannes Vedin, konsultan HRD senior untuk Perusahaan Capgemini dari Swedia. Menurutnya, ada perbedaan mendasar dalam keahlian lulusan program Sarjana dan program Pascasarjana.

“Kebanyakan lulusan Master lebih dewasa dalam menghadapi dinamika di dunia kerja. Mereka juga lebih luwes menerjemahkan pengetahuan yang mereka miliki kedalam sebuah aksi nyata.

Punya gelar Master memang menguntungkan, tapi perusahaan juga tertarik untuk mendapatkan orang dengan passion yang kuat. Saat ada orang dengan ambisi dan passion yang sesuai dengan perusahaan, semangat yang dia miliki setara dengan gelar Master yang barangkali belum didapatnya”.

Dari pendapat praktisi diatas bisa disimpulkan bahwa meskipun pendidikan Pascasarjana bisa membawa keuntungan dalam proses mencapai karir impian, tapi dia bukanlah segalanya. Keahlian teknis dan passion yang kuatlah yang akan lebih menentukan kesuksesanmu.

S2 Itu Sah-Sah Saja, Asal Bukan Ini Alasannya

Berkomitmen menempuh pendidikan pascasarjana tentunya butuh usaha ekstra. Tidak hanya komitmen finansial, kamu juga perlu menguatkan diri untuk menghadapi gempuran tugas yang pastinya lebih menantang dibandingkan tugas-tugas yang kamu hadapi di jenjang sarjana.

Sebelum membenamkan kaki di medan perjuangan mahasiswa pasca sarjana, coba yakinkan diri dulu: “Apakah kamu memang ingin belajar lagi?“. Keputusan untuk menempuh pendidikan lanjutan tentunya oke banget, selama alasannya bukan ini:

  1. Kamu hanya ingin menghindar dari kewajiban mandiri secara finansial
  2. Kamu ingin lepas dari persaingan pencarian kerja yang sangat ketat
  3. Sekolah pascasarjana hanya pelarian untuk keluar dari pekerjaanmu yang membosankan
  4. Sekolah lagi hanya jadi alat untuk mewujudkan impian tinggal di luar negeri (kamu bisa menabung dan traveling saja, tanpa harus investasi waktu dan pikiran bertahun-tahun)
  5. Kamu tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupmu, sehingga mengambil keputusan untuk sekolah lagi

Kalau 5 alasan diatas adalah pendorong keinginanmu melanjutkan pendidikan, maka sebaiknya pikir-pikir lagi deh. Daripada membuang waktu untuk lari dari masalah dengan S2, masih banyak kok cara lain yang lebih elegan untuk menghadapinya.

Kalau Habis Lulus Mau Langsung Kerja, Emangnya Bisa?

Siapa bilang orang yang baru lulus kuliah tidak punya kesempatan untuk dapat pekerjaan? Walau hampir semua lowongan mensyaratkan sudah punya pengalaman kerja tetap ada cara kok untuk mengakalinya:

  • Mendaftarlah ke posisi Management Trainee (MT), di posisi ini kamu akan mendapatkan pelatihan langsung dari perusahaan untuk disiapkan menjadi calon manajer.
  • Jangan langsung patah arang saat ada lowongan yang mensyaratkan pengalaman kerja. Kalau kamu memang yakin bisa, daftar saja. Perusahaan akan tetap mempertimbangkan aplikan yang memang passionate.

  • Yakinkan perusahaan bahwa kamu adalah pribadi yang siap latih. Walau kamu belum punya pengalaman kerja, tapi keinginan untuk berlatih bisa jadi kekuatanmu.
  • Kenali kemampuan dan aset yang kamu miliki. Jangan lupa juga untuk memanfaatkan semua koneksi yang sudah terjalin selama ini.
  • Cari tahu standar gaji di bidang pekerjaan yang kamu incar. Ini penting agar kamu tidak kaget dan punya pertimbangan rasional saat bernegosiasi soal gaji.
  • Lihat kesempatan karir yang ditawarkan oleh pekerjaanmu. Walau awalnya gajimu kecil, bukan berarti karirmu tidak akan berkembang kan?

Jadi gimana nih menurutmu? Lebih baik langsung kerja, atau lanjut S2 dulu selepas lulus kuliah? Semua pilihan punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Akhirnya, semua keputusan kembali ke tanganmu. Semoga berhasil!

Source : Hipwee.com

6 Kebiasaan Buruk Yang Dilahirkan Teknologi Modern

Teknologi modern mampu menghubungkan kita dengan sumber informasi yang nggak terbatas jumlahnya. Teknologi juga membawa kita lebih dekat dengan orang yang sedang jauh; batas-batas geografi gak ada artinya jika kamu terhubung dengan internet. Namun, terkoneksi dengan teknologi internet juga punya keburukan sendiri. Teknologi bisa menjebakmu ke dalam kebiasaan yang bikin kamu terlihat orang yang gak peduli, pemalas, bahkan tak memedulikan keselamatan diri.

Sebaiknya kamu atasi 6 kebiasaan jelek yang lahir dari teknologi ini:

  1. Lebih Memilih Memotret Daripada Menikmati Momen

Lihat sunset dari tepi pantai emang indah. Tapi jika kamu gak menikmatinya langsung, otak kamu gak akan mengingat indahnya warna keemasan yang melukis langit petang itu. Iya sih, dengan kamera smarphone kamu bisa mengabadikan pemandangan itu. Tapi ponsel bukanlah penangkap gambar yang sempurna. Justru memori otak kita yang bisa merekamnya dengan baik.

Sebuah riset  menunjukkan kalau orang yang suka mengambil gambar sebuah karya seni gak akan tertarik untuk memikirkan bagaimana karya itu dibuat. Sementara orang rela mantengin lukisan berjam-jam akan berusaha memahami usaha keras dari sang artis.

Lagipula, gak seharusnya ‘kan sesuatu yang begitu indah hanya kita nikmati lewat layar? Smartphone-mu boleh punya kamera 8MP, tapi resolusi matamu jauh lebih tinggi. Jadi ketika lain kali kamu menjumpai momen dan pemandangan yang luar biasa indah, pandangi seksama dan biarkan memori kamu yang merekamnya.

  1. Gak Lepas Dari Social Media Saat Di Meja Makan

Hampir setiap orang pernah melakukan atau melihat orang melakukan ini, sibuk baca Twitterupdate di Path, ngetawain foto di Facebook padahal kamu lagi bersama orang lain di meja makan. Nyatanya, kehadiran ponsel pintar dan gadget lain di atas meja makan bisa membawa efek negatif bagi hubunganmu dengan orang lain.

Jika kamu punya teman (atau kamu sendiri) yang suka nge-cek status Facebook, skor pertandingan bola, atau Like Instagram-nya padahal kalian lagi makan bareng, maka kalian harus cobain permainan ‘Tumpukin Ponsel’. Susun ponsel kalian bertumpuk di tengah meja — yang duluan ngambil ponsel harus traktir teman-temannya yang lain.

  1. Nge-Cek Notifikasi Pas Lagi Kerja

Studi menemukan bahwa pekerja kantor teralihkan perhatiannya dari kerjaan sekitar 6 kali dalam satu jam. Walaupun cuma sebentar-sebentar, gangguan semacam itu ternyata sangat mempengaruhi kualitas kerja kamu. Jika kamu sedang banyak tugas dan dikejar deadline coba log out dari semua media sosial, aplikasi chat, dan permainan di ponsel kamu. Bikin ponsel kamu jadi silent atau matikan jika perlu. Dijamin kerjaan kamu makin lancar.

  1. Tidur Bareng Smartphone

Gak hanya membuat kamu begadang hingga malam, berkutat dengan smartphone juga merusak kualitas tidurmu dan akhirnya mengganggu kualitas kerja di keesokan harinya. Cobalah untuk tidur tanpa kehadiran peralatan canggih atau internet. Matikan ponsel kamu kalau perlu simpan di ruangan berbeda. Kalau takut bangun telat, gunakan alarm dari jam weker.

  1. Nonton Serial Maraton

Mungkin kamu baru sadar kalau ada serial TV oke berjudul Breaking Bad, dan berhubung udah gak disiarin lagi di TV, kamu berniat nonton season pertama hingga season terakhirnya lewat internet. Sial, serial TV itu bagus banget dan kamu pun nggak bisa berhenti nonton. Malam besoknya, kamu baru ingat kalau kamu udah lama gak nonton Running Man – belum lagi Game of Thrones yang lagi seru-serunya.

Hati-hati, lho: di balik nikmatnya nonton maraton, ada bahaya kesehatan yang mengancammu. Menurut riset, begadang 3 jam atau lebih setiap harinya bisa berujung pada kematian dini. Daripada berlama-lama duduk hingga kamu jadi sakit mending jalan-jalan keluar rumah, mengerjakan sesuatu atau membaca di taman.

  1. Main Smartphone Sambil Jalan

Gak hanya bikin orang yang kamu tabrak jadi kesal, kamu juga ketinggalan dengan dunia yang sebenarnya. Dunia itu berputar di sekitar kamu, bukan di ponsel pintarmu. Jadi waktu kamu jalan, simpan ponsel di saku atau tas. Siapa tahu yang kamu lihat di sekitarmu bisa lebih menarik daripada meme kucing di ponselmu?

Daripada gak henti-hentinya nge-post di media sosial atau nonton semalam suntuk, mending kamu perhatikan kesehatan, produktivitas dan hubungan kamu dengan orang yang kamu sayangi.

Source :  Hipwee.com